Biografi Jenderal Sudirman, Sosok Jenderal yang Sakti

Sang Panglima Besar

Biografi Jenderal Sudirman

Biografi Jenderal Sudirman – Mengenal sosok pahlawan Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Perjuangan – perjuangan mereka patut untuk dikenang sebagai bentuk rasa hormat. Karena perjuangannya lah kemerdekaan Indonesia sekarang ini kita nikmati. Seperti seorang Jenderal Sudirman yang berjuang dengan gigih dan mempertahankan kemerdekaan kita dari para penjajah. Simak bagaimana sosoknya dalam Biografi Jenderal Sudirman pada ulasan kali ini.

Pahlawan nasional yang pernah menjadi seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat di kota Banyumas ini juga sempat terpilih menjadi seorang panglima angkatan perang di tanggal 12 November 1945. Bahkan beberapa perang dipimpinnya seperti ketika melawan tentara Inggris di Ambarawa dan juga pasukannya yang membela Yogyakarta dari adanya serangan Belanda II.

Kisah sang Jenderal Sudirman ini memang tak ada habisnya. Banyak kisah heroik yang membuat kita bangga terhadap sikap dan keberanian milik Jenderal Sudirman. Banyak pengorbanan yang ia lakukan untuk mengusir para penjajah. Termasuk pengorbanan tidak bisa selalu bersama dengan keluarganya. Ia tak bertemu dengan anak bungsunya sejak lahir hingga dua bulan dan meninggal.

Biografi Jenderal Sudirman

1. Jenderal Sudirman dan Keluarga

Jika selama ini kita mengenalnya sebagai Jenderal Sudirman (dalam ejaan lama ditulis “Soedirman“), beliau memiliki nama lahir yaitu Raden Soedirman. Lahir di tanggal 24 Januari tahun 1916 di Desa Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Sementara beliau meninggal di Magelang, 29 Januari 1950 di usia 34 tahun.

Jenderal Sudirman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki. Beragam Islam dan berprofesi sebagai Tentara Nasional Indonesia. Rasa nasionalisme yang dimiliki Jenderal Sudirman ini begitu besar. Ia dinobatkan sebagai pahlawan nasional dengan keberanian dan juga bakat memimpin luar biasa.

Jenderal Sudirman ini memiliki istri bernama Alfiah. Mereka dikaruniai 9 anak. Mereka adalah Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh, Bambang Tjahjadi, Taufik Effendi, Didi Praptiastuti, Didi Sutijati, Didi Pudjiati, Titi Wahjuti dan juga Satyaningrum.

Selain itu, Jenderal Sudirman juga memiliki ayah kandung yaitu Karsid Kartawiraji dan Ibu bernama Siyem. Sementara saudara yang dimilikinya adalah Muhammad Samingan. Keluarga dari Jenderal Sudirman juga berkorban untuknya mendukung peperangan. Terutama sang istri yang harus ikut bersembunyi ketika melahirkan anak bungsunya.

Sementara ayah dari Jenderal Sudirman ini merupakan pekerja di pabrik gula Kalibagor, Banyumas dan sang ibu adalah keturunan Wedana Rembang. Semasa kecil, Jenderal Sudirman juga sempat dirawat oleh Raden Tokrosoenarjo dan sang istri bernama Toeridowati.

2. Pendidikan

Biografi Jenderal Sudirman ini juga menceritakan bagaimana pendidikan yang didapatkannya. Beliau bersekolah di sekolah taman siswa. Melanjutkan pendidikan ke HIK atau sekolah guru Muhammadiyah, Solo tetapi tidak sampai lulus hanya sekitar 1 tahun saja. Kemudian beliau memutuskan untuk mengikuti pendidikan militer pembela tanah air yang ada di Bogor.

Baca Juga :  Biografi Pahlawan Revolusi - Korban Kekejaman PKI

Pendidikan bagi seorang Jenderal Sudirman memang sangatlah penting. Ia pernah mengajar dan berprofesi sebagai guru serta masuk pendidikan militer hingga menjadi seorang Jenderal Sudirman. Karena keberanian dan rasa nasionalisme yang dimilikinya tak lepas dari pendidikan yang didapatkan.

3. Karir

Memulai karir, Jenderal Sudirman pernah menjadi Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap. Dimulai pada saat suka berorganisasi, kriteria pemimpin muncul pada dirinya dan begitu disukai oleh orang – orang yang ada di sekitarnya. Aktif pada kegiatan pramuka Hizbul Watan dan menjadikannya seorang guru sekolah dasar Muhammadiyah di Kabupaten Cilacap.

Kemudian ia menjadi tentara PETA (Pembela Tanah Air) binaan Jepang pada tahun 1944. Ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Banyumas. Sudirman dan dkk pernah melakukan pemberontakan dan diasingkan di Bogor.

Ketika Indonesia merdeka, Sudirman ditunjuk mengawal penyerahan Jepang di Banyumas. Pada tanggal 20 Oktober 1945, Pasukan yang dipimpinnya dilebur dalam Divisi V dan ia memimpin divisi tersebut dengan pangkat Kolonel.

Dalam sebuah pemilihan untuk Panglima Besar di Jogyakarta pada 12 November 1945, Sudirman terpilih sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TNI sekarang) menggantikan Oerip Soemohardjo yang akhirnya menjabat kepala staff. Dukungan terhadap Sudirman semakin besar setelah ia memerintahkan untuk menyerang pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa, Jawa Tengah.

Jenderal Sudirman yang banyak begerilya dalam rangka berjuang menghadapi Agresi Militer II pihak Belanda . Ia berhasil menghindar dari pengejaran pasukan Belanda dan mendirikan markas di dekat Gunung Lawu. Dari sinilah ia memimpin pasukan untuk menghadapi Belanda, termasuk serangan umum 1 Maet 1949 yang di pimpin Soeharto.

Sudirman yang mengidap penyakit TBC terus melawan Belanda. Akibat penyakitnya tersebut membuat ia harus pensiun, ia kembali ke Magelang dan ia meninggal dunia ketika Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia.

Menjadi Panglima Besar TKR/ TNI dengan pangkat Jenderal pada saat usianya mencapai 31 tahun. Beliau dikatakan sebagai seorang Jenderal yang paling muda sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia.

4. Penghargaan

Sementara karena perjuangannya melawan penjajah, Jenderal Sudirman memang diakui tegas dalam memimpin dan tangguh dengan perjuangan yang ia lakukan. Penghargaan yang didapat ialah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia serta Jenderal Besar Anumerta Bintang Lima di tahun 1997.

Jenderal Sudirman pernah juga masuk dalam belajar militer di PETA atau pembela Tanah Air. Saat itu, pendidikan PETA dilakukan oleh warga Jepang di dalamnya. Beliau menjadi seorang Komandan batalyon yang ada di Kroya, Jawa Tengah. Kepemimpiannnya memang tidak berhenti sampai disitu saja namun masih berlanjut dan menjadi panglima di Kota Banyumas.

Jenderal Sudirman juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Kota tersebut. Ia terpilih juga menjadi seorang panglima angkata perang pada tanggal 12 November 1945. Melawan penjajah tanpa rasa takut serta berada di Yogyakarta untuk berjuang pada serangan Belanda II.

Baca Juga :  Biografi Soeharto - Presiden Terlama di Indonesia

Kesaktian dari Biografi Jenderal Sudirman

1. Seperti Tahu Musuh Akan Datang

Jenderal Sudirman tidak hanya dikenal sebagai seseorang yang berani tetapi juga memiliki kesaktian ketika menghadapi para penjajah. Bahkan kemampuannya dalam mengolah ilmu kedigdayaan sudah diakui sebagai salah satu kelebihan yang dimiliki. Perhitungannya terbilang matang dan tepat serta akurat sampai membuat decak kagum dari orang-orang yang ada di dekatnya.

Anak bungsu atau Mohammad Teguh Sudirman sendiri juga mendengar banyak cerita akan kelebihan sang ayah. Teguh memang lahir di tahun 1949 yang mana waktu itu sang ibu bersembunyi di Keraton Yogyakarta ketika ayahnya bergerilya. Bahkan anak bungsu ini tidak sempat bertemu dengan ayah yang meninggal dua bulan setelah di lahir. Teguh hanya bisa mendengar kisah Sang Sudirman dari ibunya.

Salah satu penggalan ceritanya adalah ketik Jenderal Sudirman sampai di Gunungkidul, Yogyakarta. Sudirman tidak mengizinkan pasukan untuk beristirahat lama. Beberapa saat kemudian ternyata pasukan dari Belanda memang tiba di lokasi peristirahatan pasukan Sudirman.

2. Dipercaya Seorang Yang Sakti

Ada juga yang menceritakan bahwa Jenderal Sudirman ini sakti ketika ada penduduk yang datang dan meminta untuk diberikan air minum demi kesembuhan sang istri. Jenderal Sudirman memberikan minuman dan dibacakan doa. Ternyata setelah meminumnya dan beberapa hari kemudian, istri dari warga tadi benar-benar pulih.

Masih banyak cerita dari Jenderal Sudirman yang dikenal sebagai panglima pemberani dan cerdik. Kemampuannya yang mengetahui kedatangan musuh sering memberi keuntungan bagi pasukannya. Bahkan hal ini tidak dimiliki oleh pasukan lainnya.

Inilah biografi lengkap dari seorang Jenderal Sudirman. Mengenal bagaimana kesaktian, perjuangan dan juga pengorbanan dari pahlawan nasional ini membuat kita menghargai kemerdekaan yang kita miliki. Jika pada zaman penjajahan dulu para pahlawan harus berjuang dengan bambu yang runcing, maka berbeda dengan sekarang.

Tidak ada penjajah yang menginjakkan kaki di Indonesia sekarang ini. Namun, masyarakat dihadapkan pada keberagaman suku, ras dan agama yang juga sebagai kekuatan kita. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.  Perjuangan masyarakat sekarang adalah pada bangsanya sendiri agar saling menghargai dan menghormati.

Apalagi seperti yang sering terjadi ialah berita-berita tidak benar tersebar dan memecah belah bangsa. Saat itulah peran dari tiap masyarakat untuk bersatu. Menyaring betul berita yang beredar. Menjaga bagaimana kebhinekaan tetap ada di Indonesia. Karena apapun agamanya, ras dan sukunya jika sudah ada di Indonesia maka ia merupakan saudara sebangsa dan se tanah air.

Demikian pembahasan kita tentang Biografi Jenderal Sudirman, semoga dapat menginspirasi kita semua.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *